by Sammaria Simanjuntak
“Hukum Newton 1: Kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran” seru karakter Cina di awal film.
Pelajaran pertama dalam menulis skenario: Hati-hati pernyataan di dalam skenario malah berbalik menyerang lo!
Ini yang terjadi pada saat kami mencari Annisa. Kami kesulitan mencari Annisa yang tidak hanya sekedar cantik karena dialog di film ini panjang-panjang dan berat. (Pelajaran kedua menulis skenario: mikir dong gimana ngapalinnya!) Butuh konsentrasi dan kecerdasan tinggi untuk memerankan Annisa di film ini.
Jadi dimulailah perburuan kami mencari wanita bertampang sinetron, tapi aktingnya gak sinetron. Silih berganti wanita yang memasuki ruang casting semakin meneguhkan hipotesis tadi, kecantikan memang berbanding terbalik dengan kepintaran. Sebenarnya banyak juga wanita cantik dan pintar yang masuk seleksi, hanya sayangnya wajahnya terlalu pintar. Matanya terlalu bercahaya dan penuh semangat hidup. Sedangkan untuk karakter Annisa, kami butuh tipikal karakter wanita cantik yang sering dicap bodoh, bermata sayu, tanpa semangat hidup, tapi dalam kehidupan nyata mampuslah kami kalau dia beneran bodoh.
Lelah mencari, saya mengajukan diri ke produser untuk memerankan Annisa. Wanita cantik dan pintar, siapa lagi kalau bukan saya? Dengan mata disayu-sayukan, saya merayu produser untuk memakai saya saja. Tapi produser saya menolak dengan alasan produksi kami gak mampu nyewa lensa wide yang mampu menangkap lebar tubuh saya tanpa terpotong frame. Dasar produser gak tahu barang bagus. Dengan menggerutu, saya kembali ke kursi sutradara yang tiba-tiba membengkok ketika saya duduki. Oops.
Jadwal shooting sudah diundur dua bulan dan kami belum juga menemukan Annisa. Si Cina sudah merengek-rengek minta dicarikan jodoh. Setelah gagal mencari Annisa di negeri kami sendiri, Bandung, akhirnya kami melanjutkan pencarian ke negeri tetangga, Jakarta. Di Jakarta banyak juga cewe cantik dan pintar yang qualified untuk menjadi Annisa, tapi tidak cukup gila untuk mau menerima pinangan produser miskin dari Bandung. Kriteria Annisa pun bertambah : cantik, pintar, dan gila.
Penantian kami ternyata tidak sia-sia. Akhirnya jodohnya Cina datang juga. She’s our own Annisa, anggota terakhir di daftar tim kecil nan belagu ini. Selain cantik, pintar, dan gila, Saira juga jago menipu. Dengan mata sayu, Saira berhasil meyakinkan sutradara kalau dia beneran bego dan gak punya semangat hidup. Jurus mata sayunya ini bahkan berhasil menurunkan kucing jantan dari pohon tanpa Saira bergerak sedikit pun. Ditambah lagi bakat-bakat terpendam yang gak dimiliki artis lain: jago bongkar angkut tripod dan mampu menghabiskan makanan porsi kuli.
The Big Director really saves the best for last for us.
Saira Jihan, we love you.
wahh,, penantian panjang untuk hasil yg memuaskan..!!
ternyata selain pintar, sutradaranya juga punya selera humor yg bagus.
Tapi kog cuma diputer di blitz Megaplex sih,, yg di Semarang kan jd ga bisa nonton
Sayang sekali ga bisa bertemu dengan Saira Jihan di Premierre Blitzmegaplex Grand Indonesia, 18 Agustus 2009 ya…
All crew and actors are cool and very friendly, nice to meet you all…
Breakthrough yg keren dan tepat mbak..
saya suka film nya..
Alur’a cepat tp ga monoton..
hehe..
btw,kisah pencarian tokoh Cina nya ga ada mbak..??
kok cuma annisa aja sih..
hehe..
Saya mahasiswa ITB (dan teriak2 “Kiri! Kiri! Dikit lagi fakultas gw tuh!” sepanjang film) dan bener2 excited sepanjang pemutaran film ini. Andai saja saya bisa turut berpartisipasi dalam pembuatan film seperti ini, saya ingin banyak belajar hal2 seperti ini.
Cin(T)a really made my day.
By the way, why did God creates us differently if He only wants to be worshipped in one way? Cause if everything goes the same, it will no longer fun.
tee-hee.
itu kampus saya itu kampus sayaaaaaaa *nggak penting*
beuh.., keren bgt’s. so exited! gw nonton trailernya dan suka bgt. gw blm nonton sih… soale aq gag di JKT. tp, asli gw pengen bgt nonton….
hihihi lucu …. keren.. mantep.. coba saya yg jadi nya ya heheheh
dah mupeng neh pengen nonton.
hari ini terakhir di blitz megaplex GI jam 6.
saya(dan pasukan) pastikan hadir sore ini
nonton yukkkk
;D
minggu lalu nonton di kampus, nice movie guys good work…suka banget ama art nya
annisanya ga dtng yah, haha
hahahaha =D, si mbak sam punya selera humor ternyata…
tp keren, Saira Jihan cocok bgt jadi Annisa
kadang Qta punya ide bagus, tp nyari talent yg gug aneh2 ntu yg susah…
berharap bsk di surabaya bertemu dengan Annisa…hehehe ^^
well, congrats yah mbak sud..
bagus banget film’nya. Awalnya, saya sempet sangsi sama film indie-nya Indonesia,.tapi abis nonton cin(T)a, saya jadi pengin menyelami film indie lebih lagi^^
salut juga buat saira jihan n sunny soon .. cool acting!
Dapet award best script di Jiffest 2009 ya? Huwaaaaaaa kapan ya saya bisa nyusul prestasinya hiks. Ngiriiiiii kueren banget nih film. Oscar aja deh wkwkwkw. Ternyata berimajinasi dan mewujudkannya itu kudu coexist ya. Lucu cerita blognya.
ingin info dan kontak mengenai Cin(t)a, please send email, jadi dapat kirim pertanyaan,
thanks,
Filmclub Nijmegen-Holland